Kamis, 28 Januari 2010

IHSG Kembali Tembus 2.600

Thursday, 28 January 2010
JAKARTA (SI) – Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali berada di level 2.600 setelah melemah sejak pekan lalu. Kendati demikian,investor asing masih melakukan aksi jual saham.

IHSG kemarin ditutup naik 55,011 poin (2,15%) ke 2.619,56 seiring dengan penguatan (rebound) di bursa global.Kenaikan dipicu oleh sentimen positif dari kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang mempertahankan suku bunganya serta pidato Presiden Barack Obama untuk mendukung sektor usaha kecil menengah (UKM) dan menciptakan lapangan kerja.

Sentimen ini mengalahkan kekhawatiran terhadap demo 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jilid II. “Sentimen regional dan global masih menjadi pengaruh utama IHSG. Demo tidak terlalu berpengaruh, apalagi demo tersebut berjalan relatif aman,” ujar Kepala Riset Paramitra Alfa Securities Pardomuan Sihombing kepada harian Seputar Indonesia (SI) kemarin.

Dia menambahkan, demo tersebut baru berdampak pada pasar jika terjadi tindak anarkisme yang bisa mengganggu stabilitas politik dan ekonomi. “Meski sempat terjadi kericuhan di beberapa daerah, tapi itu tidak mengkhawatirkan,” tukasnya. Meski begitu, tidak bisa dimungkiri bahwa investor kemarin cukup berhati-hati.Ini terlihat dari sepinya perdagangan. Berdasarkan data Bursa efek Indonesia (BEI), volume transaksi hanya 4,697 miliar saham senilai Rp3,756 triliun.

“Investor memang wait and see, tapi itu lebih karena mencermati perkembangan global,” kata Pardomuan. Analis Bali Securities Ketut Tribayuna juga menilai kebijakan The Fed (Bank Sentral AS) serta pidato Obama membuat arah IHSG berbalik naik setelah terus tenggelam sejak akhir pekan lalu. Penguatan IHSG bahkan diperkirakan berlanjut. “Itu memberi kepercayaan investor kepada konsumen bahwa potensi ke depan akan membaik.

Apalagi sahamsaham unggulan dalam beberapa hari ini telah terperosok,”ujarnya. Menurut dia, pelaku pasar mulai kembali mengakumulasi sejumlah saham seiring sentimen positif tersebut.Namun,investor juga masih berhati-hati dan mencermati perkembangan yang terjadi. Termasuk sentimen dari dalam negeri terkait evaluasi program 100 hari pemerintah dan pengumuman hasil pemeriksaan Pansus DPR terhadap kasus Bank Century.

Kepala Ekonom Danareksa Research Intitute Purbaya Yudi Sadewa mengatakan, Indonesia merupakan pasar yang prospektif. Selama pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang ada, dana asing masih akan mengalir ke Indonesia. Sebab, besarnya likuiditas di pasar global membutuhkan sasaran investasi yang memberikan imbal hasil tinggi. “Selama kita bisa menjaga fiskal dan moneter baik,kita masih akan menjadi tujuan bagi dana asing.

Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2016 dalam posisi yang sangat baik,” terangnya. Investor asing dalam beberapa hari ini memang lebih banyak melepas ketimbang membeli saham. Sejak akhir pekan lalu, transaksi investor asing di bursa membukukan jual bersih (net sell) lebih dari Rp2 triliun. Bahkan kemarin transaksi asing tercatat minus Rp77 miliar.

“Dalam situasi pasar saham yang kurang kondusif, investor asing akan mengalihkan (dananya) pada investasi lain yang relatif lebih kuat seperti pasar uang. Itu yang terjadi. Banyak dana asing yang kemudian diinvestasikan ke dolar AS,” ujar analis pasar modal Felix Sindhunata.

Felix meyakini, begitu sentimen pasar mulai mengarah positif, dana asing akan kembali membanjiri pasar modal. “Kemarin saham kita sudah naik cukup tinggi sehingga asing mengambil kesempatan untuk profit taking (ambil untung).Tapi,dengan koreksi yang sudah begitu dalam, investor akan kembali masuk,”pungkasnya. (juni triyanto)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/300911/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar